Sum Kuning 1970: Ketika Korban Dibungkam dan Keadilan Dikalahkan Kekuasaan

tersebut bukanlah pemerkosaan, melainkan hubungan suka sama suka.

Lebih jauh lagi, Sum dituduh telah memberikan laporan palsu.

Upaya delegitimasi tak berhenti di situ. Dalam konteks politik yang masih sensitif pasca 1965, muncul tudingan bahwa Sum memiliki keterkaitan dengan kelompok terlarang—sebuah stigma yang secara efektif meruntuhkan kredibilitas seseorang di mata publik saat itu.

Pengadilan dan Tekanan Publik

Kasus ini akhirnya bergulir ke meja hijau. Sum didakwa dengan tuduhan memberikan keterangan palsu.

Sidang berlangsung di tengah sorotan publik yang semakin besar.

Media, mahasiswa, dan masyarakat mulai mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan dalam proses hukum:

Mengapa korban justru dijadikan terdakwa?

Mengapa pelaku utama tak kunjung terungkap?

Mengapa narasi aparat berubah-ubah?

Di tengah tekanan tersebut, pengadilan akhirnya memutuskan bahwa Sum tidak bersalah. Ia dibebaskan pada Desember 1970.

Namun kebebasan itu tidak serta-merta memulihkan keadilan. Pertanyaan besar tetap menggantung: siapa pelaku sebenarnya?

Dugaan Keterlibatan Elite

Sejak awal, beredar dugaan bahwa pelaku bukan orang sembarangan.

Beberapa indikasi mengarah pada kelompok dengan status sosial tinggi:

Penggunaan mobil pada masa itu—barang mewah yang hanya dimiliki kalangan tertentu

Upaya sistematis untuk menutup kasus

Penanganan aparat yang tidak lazim

Banyak pihak meyakini bahwa pelaku memiliki keterkaitan dengan anak pejabat atau kalangan berpengaruh.

Dugaan ini semakin menguat seiring dengan munculnya berbagai kejanggalan dalam proses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!