Benanusa.com, Tanjungjabung Barat – Humas PT Wira Karya Sakti, Taufik SH, memberikan penjelasan atas penghentian penyerapan pupuk kompos hasil produksi petani. Menurutnya, penghentian itu hanya sementara dan tidak seluruhnya mitra dihentikan.
“BUMDes itu binaan kita dalam rangka Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Produknya, khususnya kompos. Kita yang menampung sesuai dengan kebutuhan kita dan itu berkesinambungan. Jika pun ada penghentian, hanya bersifat sementara. Evaluasi kualitas karena faktor hujan. Potensi perubahan kandungan unsurnya sangat dinamis. Tetapi sampai saat ini saya belum dapat info komplain penghentian itu dari BUMDesnya,” ucap Taufik pada Kamis, 4 Agustus 2022.
Ia meluruskan informasi yang sempat beredar di masyarakat bahwa seluruhnya disetop. “Kalau penghentian semua enggak ada. Karena kita butuh kompos. Biasa ada temuan kualitas itu. Karena emang sulit. Hujan terus ini cepet berubah. Tapi timku tetap melakukan pendampingan untuk mitigasinya,” tuturnya.
Sementara itu, sudah hampir empat bulan BUMDes Makmur Bersama tak produksi pupuk kompos. Bukan karena mereka kehabisan bahan baku, tapi justru stok hasil produksi melimpah dan belum terjual.
Produksi pupuk kompos di Desa Tanjung Makmur, Kecamatan Merlung, Kabupaten Tanjungjabung Barat Provinsi Jambi itu sebenarnya menggantungkan harapan pada salah satu perusahaan yang sebelumnya memberikan pembinaan kepada mereka. Hal ini diungkapkan langsung oleh Ketua BUMDes Makmur Bersama, Yudhi Saputra.
“Kami bersemangat untuk memproduksi pupuk kompos karena ada kebutuhan kontrak 100 ton per bulan dari PT WKS distrik IV. Kami diberikan pembinaan, diarahkan untuk belajar di BUMDes yang sudah pernah memproduksi. Tapi, sampai sekarang kami belum mendapatkan kontrak 100 ton itu,” katanya.
Ia mengatakan, hasil produksi mereka masih terjual setiap bulannya. Namun jumlahnya belum banyak, tidak sampai 100 ton per bulannya.
“Ada yang beli, tapi dari masyarakat. Paling banyak dari daerah Desa Kemang Manis (SP 9). Mereka rutin beli 10-15 ton. Tapi yang kami tunggu itu kontrak 100 ton per bulan dari WKS. Kami sudah ajukan, tapi belum berjalan. Kabarnya, semua di-setop karena ada yang kualitasnya tak memenuhi standar. Sampai sekarang kami masih menunggu, soalnya kalau kami lanjut produksi bakal numpuk nantinya. Sudah 100 ton lebih di gudang. Kalau kami mau produksi 100, 200, 300 ton bisa saja. Tapi kami juga pertimbangkan cashflow-nya juga kan,” ujarnya pada Senin 1 Agustus 2022.

