benanusa.com
Gelombang Informasi Nusantara

Saatnya Polri Untuk Berbenah

Krisis Kepercayaan, Polri Harus Berbenah!

Oleh: Sanggul Aron Eleksis Pane

JIKA kita telisik dari sejarahnya, kepolisian merupakan institusi yang sah dan didirikan oleh Pemerintah pada 1 Juli 1946. Institusi yang bernama Polri (Polisi Republik Indonesia) itu dulunya bernama ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ). Dengan dinamika yang terjadi pada masa Orde Baru dalam konteks dwi fungsi ABRI, ABRI berganti nama menjadi Polri.

Sampai sekarang ini Polri dapat kita simpulkan sebagai institusi yang pro Pemerintahan dan bersifat Independen dari masalah Politik. Dalam sejarahnya selama 68 tahun tentu saja Polri sudah banyak melakukan hal yang positif dan banyak mengabdi pada masyarakat. Hal tersebut tidak bisa kita pungkiri, karena Polisi sendiri sudah memasuki kehidupan sosial bermasyarakat.

Pengabdian Polisi terhadap masyarakat sudah tak dapat kita sangkal lagi keberadaannya. Namun kenurut hemat penulis, tingkat kepercayaan dan keyakinan masyarakat kepada Kepolisian ini lambat laun menurun khususnya beberapa tahun terakhir. Mari kita telisik bersama beberapa kasus yang menurut penulis dapat menurunkan rasa percaya tersebut

Ada banyak aduan dari masyarakat yang sangat lama di proses bahkan tidak ada respon sama sekali. Hal ini adalah hal yang sangat mudah sekali kita temui dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu dari banyak contoh ini dapat kita cari bersama di akun Instagram @hotmanparisofficial.

Dalam video di acara Kopi Joni tersebut Hotman Paris dan klien nya memaparkan bahwa korban mengalami pelecahan seksual yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, Guru, bahkan penjaga sekolah di Medan.

Untuk menyikapi hal tersebut keluarga korban sudah melapor ke Institusi Kepolisian tetapi tidak ada respon selama kurun waktu 1 tahun lamanya. Karena tidak ada titik terang dari pihak kepolisian pihak keluarga melaporkan aduan tersebut kepada Hotman Paris.

Itu adalah satu dari sangat banyak kasus yang terabaikan oleh Kepolisian, karena sangat banyaknya pengaduan warga yang diabaikan oleh institusi kepolisian ini, akhir akhir ini media sosial khususnya platfrom twitter sempat trending #percumalaporpolisi. Fenomena ini terjadi karena tingkat kepercayaan masyarakat kepada Polisi yang berkurang. Tidak sedikit juga kasus-kasus yang terjadi di selesaikan secara sepihak dan tidak sesusai harapan.

Kasus yang berikutnya adalah Kasus Pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat yang sama sama kita ketahui bahwa pelakunya justru perwira tinggi dari institusi kepolisian. Seperti yang kita ketahui tanggal 17 Oktober 2022 menjadi sidang pertama atas tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat yang agendanya pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum oleh Jajaran Kejari Jakarta Selatan atas terdakwa Ferdy Sambo. Kasus ini sontak menjadi trending topic juga di berbagai platform media social dan berita TV karena dari dakwaan dan kronologis yang dengan lantam dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum, tergambar sangat Tragis yang dilakukan oleh Perwira Tinggi Polisi tersebut. Tingkat kepercayaan masyarakat kepada institusi polisi ini juga semakin anjlok karena adanya isu bahwa Kasus ini melibatkan banyak Polisi-Polisi yang berpangkat tinggi, adanya bisnis Haram Ferdy Sambo sebagai Bandar Judi Online.

Kasus yang berikutnya adalah Tragedi Kanjuruhan yang memakan banyak korban jiwa 132 Orang. Ini merupakan tragedi nomor 2 yang paling banyak memakan korban di dunia. Tragedi ini sontak menjadi sorotan media Internasional. Tragedi yang bermula pasca Laga Liga 1 Arema VS Persebaya telah usai, dan beberapa dari penonton turun kelapangan untuk menghampiri pemain untuk memberi semangat, ada juga yang menduga pemain turun kelapangan untuk berbuat anarkis karena Tim kebanggaannya kalah.

Memang titik terang dari tragedi ini belum ada, karena penyelidikan terhadap kasus ini belum selesai. Tetapi yang menjadi sorotan adalah tindakan Represif kepada penonton, penembakan hampir ratusan peluru gas air mata kepada masyarakat ini sontak membuat penonton lari berhamburan ke pintu keluar secara panic dan berdesak-desakan.

Diketahui juga bahwa peluru yang digunakan sudah kadaluwarsa dan tidak sesuai dengan SOP FIFA. Memang banyak factor yang menyebabkan tragedy ini terjadi. Tetapi tetap saja Rasa percaya terhadap Polisi ini terus menurun dan anjlok.

Kinerja Polri yang menurun dan kerap kali melakukan pelanggaran kode etik maupun pelanggaran HAM dan bahkan terlibat aktif dalam tindak criminal. Sebagai contoh belum lama ini Kapolda Jatim Irjen Teddy Minahasa Putra tertangkap karena tersangkut kasus penjualan Barang bukti narkoba. Kapolda yang seharusnya menjadi pimpinan dalam cakupan daerah tersebut justru tersandung kasus penjualan barang bukti narkoba.

Kepolisian yang seharusnya memutus rantai pengedaran Narkotika ini justru ikut bersumbangsih dalam mengedarkan barang haram tersebut. Kasus ini bukanlah kasus pertama yang terjadi di Indonesia, kasus seperti ini marak terjadi di LAPAS ( Lembaga Pemasyarakatan ). Ada juga kasus-kasus lain seperti kasus pencurian, kasus penganiayaan, suap menyuap dan masih sangat banyak.

Menurut Hemat Penulis itu adalah beberapa kasus yang terjadi belakangan ini yang menyebabkan turunnya rasa percaya masyarakat kepada Kepolisian.
Menurut penulis tren yang menurun ini akan terus berlanjut jika tidak ada perbaikan dari Institusi Polri itu sendiri. Gebrakan Reformasi Instansi Kepolisian secara structural harus bencar-benar dilakukan perbaikan ini harus merupakan perubahan yang besar, perekrutan yang transparan tanpa menerima suap dan Nepotisme, serta lebih memantapkan lagi sumber daya anggota Polri dan pemahaman SOP-nya.

Penulis juga beranggapan bahwa Tubuh Polri sendiri juga harus di perbaiki, Penulis meyakini masih sangat banyak komplotan-komplotan yang merusak Polri itu sendiri. Hal itu perlu dibersihkan dari tubuh Polri sendiri. Doktrin yang berlaku dalam kepolisian juga harus dibenahi dengan baik dan sewajarnya, agar tidak ada peyimpangan dan pembelotan yang melanggar kode etik kepolisian itu sendiri.

Polri harus benar-benar memperbaiki Citranya, namun Citra Polri itu sendiri harus berpondasikan Kinerja dari Polri Itu sendiri. Kepolisian juga harus lebih meyakinkan kepada masyarakat bahwa tugas Polri adalah untuk mengayomi masyarakat melalui kinerja, transparansi, dan pendekatan kembali kepada masyarakat.

*Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *