Benanusa.com, Jambi – Kita semua sepakat: tidak boleh ada anak Indonesia yang belajar dengan perut keroncongan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah harapan besar bagi jutaan orang tua yang bermimpi anaknya tumbuh kuat, cerdas, dan melampaui nasib orang tuanya. Ini adalah niat mulia yang harus kita peluk bersama. Namun, di balik narasi besar itu, sebuah kenyataan pahit mulai tercium.
Bagaimana perasaan kita saat mendengar ada anak sekolah yang hanya diberi sepotong roti kemasan siap saji sebagai menu “bergizi” mereka? Di mana proteinnya? Di mana sayurannya? Di mana janji perbaikan gizi itu? Memberi makanan olahan pabrik yang penuh pengawet bukanlah solusi stunting, itu hanyalah cara instan untuk “menggugurkan kewajiban” administratif. Anak-anak kita bukan tempat pembuangan anggaran, mereka adalah manusia yang butuh asupan nyata untuk otaknya berkembang.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa kebutuhan anak di pegunungan Papua berbeda dengan anak di pesisir Jawa. Memaksakan standar menu yang seragam dari Jakarta adalah bentuk pengabaian terhadap kearifan lokal. Mengapa kita harus mengirim beras jika bumi mereka kaya akan sagu dan umbi yang lebih sehat? Mengapa harus susu kemasan jika laut mereka melimpah dengan ikan segar? Ketimpangan logistik dan potensi pemotongan anggaran di sepanjang jalur birokrasi adalah ancaman nyata yang bisa membuat piring anak-anak di daerah terpencil hanya berisi sisa-sisa kejujuran yang sudah terkikis.
Mari Bicara Jujur: Ke Mana Larinya Rupiah Itu?
Kita khawatir, di tengah jalan yang panjang dari pusat ke desa, angka-angka di atas kertas perlahan menyusut. Dari daging menjadi telur, dari telur menjadi tahu, dan dari tahu akhirnya hanya menjadi sepotong roti plastik.
Rasa apatis kita hari ini dugaan saya adalah hasil dari rentetan janji yang seringkali dikhianati oleh oknum yang lebih mementingkan “jatah” daripada kesehatan anak bangsa. Tapi, haruskah kita terus diam melihat hak anak-anak kita dirampas?
Agar program ini tidak menjadi sekadar “proyek” yang lewat begitu saja, kita menuntut:
- Gunakan bahan pangan lokal dari petani dan nelayan sekitar sekolah. Biarkan uang rakyat berputar di desa, bukan lari ke korporasi besar.
- Jangan biarkan uang tunai menjadi godaan. Gunakan sistem digital yang bisa dipantau siapa saja. Jika menu hari ini adalah ikan, maka yang ada di piring haruslah ikan, bukan roti!
- Berikan hak bagi orang tua murid untuk mengawasi dapur sekolah. Jika makanan tidak layak, suarakan! Jangan takut, karena ini adalah hak anak-anak kita.
- Biarkan menu di Papua, Sumatera, dan Jawa berbeda asalkan standar gizinya sama. Hormati lidah dan kearifan pangan lokal mereka.
MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan gratis.




