Labirin Polresta Jambi dan Trauma Anak Korban Silat

Avatar

Benanusa.com, JambiBagi KY, ancaman itu masih terngiang jelas di kepalanya. Jika menolak perintah sang guru silat untuk menjalani ritual gaib “pemasangan kodam”, ia diancam akan menjadi anak yang bodoh. Ketakutan akan kutukan spiritual itu memaksa bocah di bawah umur tersebut menyerah pada kebejatan empat orang di sebuah padepokan silat di Kota Jambi.

​Luka psikis itu membuat KY kerap gemetar dan menangis. Namun, siapa sangka, trauma KY nyatanya tak berhenti di atas matras padepokan. Saat sang ibu membawanya mencari perlindungan hukum ke Markas Kepolisian Resor Kota (Polresta) Jambi, mereka justru dipaksa menelan pil pahit: dihadapkan pada dinding birokrasi yang dingin, berbelit, dan nir-empati.

Ditolak Sebelum Bertanding

​Pertengahan Februari 2026, ibu KY, dengan sisa keberanian yang ada, melangkah ke Polresta Jambi. Ia datang tidak sendirian, melainkan didampingi oleh petugas dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Jambi. Tujuannya satu: melaporkan para predator yang telah merusak masa depan anaknya.

​Ironisnya, pintu keadilan itu tertutup rapat. Penyidik menolak laporan tersebut.

​Alasan yang disodorkan aparat terdengar ganjil secara hukum. Polisi berdalih bahwa dua pelaku utama sudah ditahan atas laporan korban lain yang kondisinya tengah hamil. Sementara itu,

error: Content is protected !!