benanusa.com
Gelombang Informasi Nusantara

Nikmat Sesaat Tapi Bisa Dipenjara Hingga 15 Tahun, Apaan Ya?

Benanusa.com, Hukum – Sobat Benanusa mau tahu enggak? Ada satu perbuatan yang “enak” tapi bisa bikin masuk penjara sampai 15 tahun loh. Selain itu, orang-orang yang melakukan perbuatan ini juga harus membayar denda dan denda itu bisa sampai Rp 5 miliar! Ayo, tebak perbuatan apakah itu?

Yap, kalau ada yang menjawab “enak-enak” dengan anak maka jawabannya benar. Loh? Kok gitu sih? Ayo kita sama-sama melihat Pasal 75 D UU RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Undang-undang ini terakhir diubah dengan UU RI No. 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Penggati Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-undang (Karena Terlalu Panjang Nanti kita sebut aja UU Perlindangan Anak).

Pasal 75 D ini menyebutkan “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.” Pasal ini memiliki Pengaturan sanksi terpisah, Sanksi Pidananya diatur pada Pasal 81UU Perlindungan Anak yakni:

  1. Setiap orang yang melangggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
  2. Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
  3. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Gimana seram enggak ancaman pidananya? Ngeri dong pastinya, tapi sebenarnya sanksinya enggak begitu berat sih, bayangkan saja psikologis anak yang terguncang akibat perbuatan tersebut? Tentunya ancaman segitu tidak begitu berat.

Bang kalau suka sama suka kan dak ada larangan kan bang? Itu Pasal 75D UU Perlindungan Anak kan cuman bilang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasa memaksa anak melakukan persetubuhan, kalau dak diancam dia juga mau kan aman aja dak si bang? Ayo pasti ada yang berpikir gini kan? Ayok lihat lagi ketentuan sanksi pidana pada Pasal 81 UU Perlindungan Anak, Pada Point 2 kan sudah dijelaskan ketentuan pidana ini juga berlaku untuk tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan. Jadi ya tetap kena loh dak ada ceritanya suka sama suka.

Bang kalau gini, yang melakukan enak-enak itu sama-sama anak-anak bisa enggak bang? Hadeh masih juga cari celah, tetap dak bisa kawan, mau anak-anak mau orang tua sama aja, tetap dikenakan uu perlindungan anak, bedanya jika yang melakukan perbuatan tersebut adalah anak maka yang dipakai Sistem Peradilan Pidana Anak yang mana ancaman pidananya dikurangi setengahnya dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. Kalau ngomongin Sistem Peradilan Pidana Anak Panjang, nanti jika tertarik Kami akan buat artikel tersendiri mengenai system peradilan pidana anak.

Bang kalau cuman di raba-raba saja dak sampe enak-enak tetap kena ya bang? tetap kena dong tapi Pasalnya aja yang beda, Kalau enak-enak dikenai Pasal 75D UU Perlindungan Anak, Kalau raba-raba kenanya Pasal 76E UU Perlindungan Anak, Bunyinya gini “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.” Kalau Sanksinya terdapat pada Pasal 82 UU Perlindungan Anak Yakni:

  1. Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
  2. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Jadi, ngeraba-raba tu termasuk perbuatan cabul ya jadinya tetap kena undang-undang perlindungan anak dan sanksinya sama aja berat bos!

Nah, dari tadi kita udah bahas sanksinya, perbuatan apa aja yang bisa dipidana. Terus, pelakunya juga sudah dibahas. Nah, yang paling penting lupa ditanyain, yang termasuk dalam kategori anak itu gimana ya? Maaf-maaf, keasikan jelasin sih jadi sampai lupa yang penting. Pengertian anak itu ada di Pasal 1 UU Perlindungan anak yang bunyinya begini, “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Udah jelas ya siapa yang dimaksud dengan anak. Jadi jangan coba-coba macem-macem ya sobat benanusa.

Bagaimana? Seram enggak? Makanya jangan pernah sekali-kali melakukan perbuatan tu nanti bisa masuk penjara loh dan ancamannya bukan main-main. Ayo kita sama-sama jaga mata, jaga nafsu, perbanyak ibadah, lakukan perbuatan-perbuatan baik, buat lingkungan yang aman untuk tumbuh kembang anak-anak penerus bangsa ini. Sehingga bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju, maju dalam ilmu pengetahuan serta maju dalam perbuatan baik.

Penulis: Ridho Muhammad Damanik, SH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *