MEDAN – Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gig,i dan Ilmu Kesehatan (FKKGIK) Universitas Prima Indonesia (UNPRI) yang beralamat di Jalan Sampul, Medan, memberikan penghargaan tertinggi kepada Prof dr Taruna Ikrar M.Biomed PhD yang saat ini diketahui menduduki posisi sebagai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sejak tahun 2024.
Proses pemberian penghargaan kepada Taruna Ikrar yang dikenal sebagai pakar dan ahli farmakologi, ilmuan kardiovaskular, dan pakar neurosains terkemuka Indonesia itu dilakukan di Ballroom UNPRI, Sabtu (4/1/2025), dan dihadiri sejumlah pihak berkompeten di berbagai bidang.
Seperti Rektor UNPRI Chrismis Novalinda Ginting, Effendy Pohan selaku Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut), Menteri Hukum dan HAM RI Supratman Andi Agtas, dan lainnya.
Dalam acara itu Rektor UNPRI Chrismis Novalinda Ginting menyampaikan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi UNPRI kepada para ilmuan yang telah memberikan dedikasi beliau pada kontribusi yang signifikan pada dermatologi, sistem jantung dan saraf.
Taruna Ikrar, kata dia, dinilai telah memberikan dan berkontribusi besar pada kedokteran gigi dan kesehatan. Menurutnya, UNPRI memiliki komitmen terus berkontribusi dalam ilmu pengetahuan terutama dalam kesehatan.
“Beliau menjadi inspirasi dalam pengembangan ilmu kesehatan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Ini bukan hanya bentuk aspirasi namun sebagai bentuk dorongan bagi yang lain untuk terus melakukan kontribusi pada dunia kesehatan,” kata Rektor UNPRI.
Sementara itu, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar yang mendapatkan penghargaan sebagai “Ilmuwan Berpengaruh di Indonesia” dari UNPRI menyampaikan orasi ilmiah dalam acara tersebut.
Adapun tema dari orasi ilmiahnya yaitu “Ancaman Silent Pandemic Akibat Resistansi Antimikroba”. L Orasi ilmiah ini dipaparkan Taruna pada rangkaian kegiatan penganugerahan gelar ilmuan berpengaruh di Indonesia.
“Silent pandemic atau resistansi antibiotik pada tubuh seseorang yang diakibatkan oleh antimikroba menjadi ancaman serius dunia,” kata Taruna Ikrar.
“Resistansi antimikroba kini menjadi fenomena biologis kompleks yang mengancam kemampuan manusia dalam mengendalikan mikroorganisme berbahaya,” kata dia lagi.
Lebih lanjut, Taruna yang merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) telah menyelesaikan magister biomediknya dengan spesialisasi farmakologi di Universitas Indonesia pada 2003 ini memberikan penjelasan tambahan.
Kata dia, resistansi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme mengembangkan kemampuan untuk bertahan hidup dan berkembang bahkan ketika di bawah paparan obat antimikroba yang sebelumnya efektif membunuh mereka.
Menurutnya, spektrum mikroorganisme yang berpotensi menjadi resisten sangatlah luas seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit.
Fenomena resistansi antimikroba ini, ucapnya lagi, tidak dapat dipandang sebagai kejadian yang terisolasi, melainkan sebagai proses evolusioner kompleks yang melibatkan seleksi alam dan adaptasi genetik.
“Setiap kali mikroorganisme terpapar agen antimikroba, terjadi seleksi ketat di mana organisme yang memiliki keunggulan genetik untuk bertahan akan melangsungkan kehidupan dan reproduksi,” tegas Taruna Ikrar.




