SETMAS LPAS: Kita Bisa Ubah Ancaman Pangan Muaro Jambi Menjadi Peluang

Benanusa.com, Muaro Jambi — Wisma Wardana, pemateri dari Setmas-LPAS (Sekretariat Masyarakat Lingkungan, Pembangunan & Sosial Ekonomi), menjadi salah satu narasumber utama dalam FGD pembangunan sektor sumber daya alam Kabupaten Muaro Jambi pada Rabu (26/11/2025) di Aula Kantor Bapperida Muaro Jambi. Dalam forum tersebut, Wisma memaparkan analisis kritis terkait kondisi pangan lokal, tantangan pertanian persawahan, serta konsep reformulasi budidaya padi sawah berbasis pendekatan berkelanjutan dan scientific agriculture.

Dalam presentasinya, Wisma menyampaikan data krusial bahwa Muaro Jambi mengalami penyusutan lahan sawah mencapai 76,81% dalam kurun 10 tahun, dari 24.898 ha (2014) menjadi hanya 5.773 ha (2024), yang berdampak langsung pada penurunan produksi beras lokal dan meningkatnya ketergantungan suplai dari luar daerah. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar ancaman, namun sekaligus peluang reorganisasi sistem pangan daerah yang lebih produktif dan bernilai ekonomi tinggi.

Bukan hanya memaparkan data, Setmas-LPAS juga memampangkan cuplikan fakta lapangan melalui tangkapan video drone di atas lahan sawah terlantar yang terbentang hingga ratusan hektar.

Wisma juga mengungkapkan bahwa kebutuhan beras Muaro Jambi saat ini mencapai ±45.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru memenuhi sekitar 25% atau 11.265 ton, sehingga terdapat defisit ±33.700 ton beras yang setara dengan peluang ekonomi kurang lebih senilai Rp 471 miliar/tahun bagi sektor usaha tani beras lokal.

Dalam paparannya, Wisma menawarkan model implementasi praktik budidaya berkelanjutan berbasis pertanian presisi melalui pengukuran pH, EC tanah & 7 parameter kunci, teknologi mikroorganisme dan pupuk organik, mekanisasi pertanian yang tepat guna, serta peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan kemitraan.

Selain aspek teknis, Wisma menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani, peran BUMDes & BUMD dalam rantai pasok beras, kemudahan investasi pertanian, dan perluasan partisipasi multipihak termasuk generasi muda dan warga desa yang kini banyak menganggur atau berpindah profesi nonpertanian.

“Dari potensi ekonomi yang kita lihat bahwa pasarnya sudah ada. Jika kita tidak mampu berproduksi, maka uang kita harus keluar untuk membeli pangan. Tidak bergerak untuk roda perekonomian daerah,” ujarnya.

Melalui gagasan tersebut, Setmas-LPAS tidak hanya memandang tanah sawah sebagai media tanam padi, namun sebagai fondasi sosial ekonomi desa, pusat regenerasi petani muda, dan sumbu pemulihan ekonomi berbasis komoditas dasar.

Dalam penutupnya, Wisma berharap forum ini menjadi momentum penting untuk mengembalikan Muaro Jambi sebagai wilayah pangan kuat, bukan sekadar daerah konsumen. Setmas-LPAS menegaskan kesiapannya mendampingi Pemerintah Daerah, kelompok tani dan OPD terkait untuk proses implementasi model budidaya padi sawah yang produktif, terukur, ramah lingkungan, serta menguntungkan petani.

error: Content is protected !!
Exit mobile version