Hoax dan Matinya Nalar Publik

Benanusa.com, JAMBI – Saat ini kita telah memasuki era digitalisasi yang sangat pesat terutama di Indonesia, medsos atau yang biasa lebih di kenal dengan sebutan media sosial sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menjadi pedang bermata dua jika tidak di gunakan dengan bijak, media sosial selalu menawarkan akses yang sangat luas terutama dalam menggali informasi dan pengetahuan, namun hal itu juga dapat memicu beberapa oknum nakal yang menyebarkan luaskan berita hoax yang dapat memicu ketakutan dalam masyarakat dan mengancam ketenangan publik

Sudah Sejak lama berita hoax menjadi kontroversial di Indonesia, masalah utama nya terletak pada lemahnya pertahanan digital kolektif masyarakat, Jutaan informasi palsu tidak akan memiliki kekuatan yang merusak jika masyarakat memiliki budaya “saring sebelum sharing.” Sayangnya, yang terjadi adalah sebaliknya emosi lebih cepat bereaksi daripada nalar.

Isu isu yang sangat banyak digunakan dalam membuat berita hoax adalah isu kesehatan, pemerintah dan penipuan, di Indonesia telah tercatat sebanyak 12.547 isu hoax dalam 5 tahun terakhir dan sebagian besar masyarakat banyak mempercayai berita berita hoax, ini yang membuat masyarakat menjadi resah dan gelisah setiap membaca isu isu di media sosial.

Dulu, masyarakat percaya bahwa kemudahan akses informasi akan membuat mereka lebih cerdas dan berakal. Tapi Nyatanya, yang terjadi justru sebaliknya. Hoax bukan lagi sekadar kebohongan biasa namun ia adalah senjata canggih yang sengaja dirancang untuk menyerang dan melumpuhkan akal sehat, masyarakat cenderung langsung bereaksi hanya berdasarkan judul, berita, atau potongan video tanpa membaca keseluruhan konteks, Ini menciptakan budaya yang reaktif alih-alih reflektif.

Sebuah berita sensasional, provokatif, dan emosional memiliki peluang yang jauh lebih cepat dibandingkan klarifikasi dari situs resmi pemerintah, Para penyebar hoax tahu persis bagaimana kecenderungan masyarakat dalam menerima informasi tanpa berpikir kritis. Ketika sebuah hoax berhasil memicu amarah dan/atau ketakutan ia bukan lagi sekadar kebohongan tapi ia berubah menjadi senjata sosial yang efektif untuk memecah-belah masyarakat dan menghancurkan kepercayaan publik.

Seperti yang terjadi pada kasus Ratna Sarumpaet di tahun 2018, yang di mana Ratna waktu itu mengaku bahwasanya dia mengalami penganiayaan atau dipukulin oleh orang yang tidak di kenal yang mengakibatkan muka nya penuh lebam di bandara husein sastranegara, bandung. Kebohongan ini juga di sertai foto wajah Ratna yang lebam dan disebarluaskan melalui media sosial sehingga menimbulkan kehebohan dan kegelisahan masyarakat pada saat itu, dan ternyata Ratna tidak pernah mengalami penganiayaan atau di pukulin oleh orang yang tidak di kenal, namun Ratna habis menjalani operasi plastik di klinik kecantikan hal itu di buktikan oleh pihak kepolisian yang telah melakukan penyelidikan secara menyeluruh, alasan Ratna berbohong karena dia malu memberitahukan ke staf pribadi nya dan beberapa tokoh politik lain nya. dari kasus ini dapat kita lihat bahwa berita hoax dapat menimbulkan kehebohan dan kegelisahan dalam masyarakat.

Solusi untuk menghilangkan berita hoax tidak terletak pada sensor atau pembatasan, melainkan pada pendidikan literasi digital sebagai prioritas utama, yang di mana masyarakat harus bisa menganalisis sumber dengan baik, apakah berita ini berasal dari media terverifikasi atau berasal dari situs yang tidak di kenalin, lalu masyarakat perlu mencari konfirmasi lain dari sumber sumber yang berbeda dan terpercaya, masyarakat harus menggunakan nalar untuk tidak langsung menyebarkan luaskan berita yang dapat memicu emosi yang kuat sebelum kebenarannya diverifikasi.

Jika masyarakat gagal menguasai nalar di era digitalisasi maka masyarakat akan terus terperosok ke dalam lubang kegelapan digital di mana fakta tidak lagi penting, dan yang berkuasa hanyalah emosional.

Artikel.
Penulis : Sinondang Evita Damanik

error: Content is protected !!
Exit mobile version