Benanusa.com, Jambi – Di saat ribuan nasabah masih menghadapi ketidakpastian layanan digital Bank Jambi, perhatian publik kini mulai bergeser pada satu hal lain yang dianggap sensitif: gaya dan respons pimpinan bank dalam menghadapi krisis.
Sorotan itu mengarah kepada Direktur Utama Bank Jambi yang dikenal aktif dalam komunitas motor gede (moge). Bagi sebagian masyarakat, tidak ada yang salah dengan hobi tersebut. Namun di tengah recovery sistem yang dinilai berjalan lambat, simbol kemewahan dan kecepatan itu justru berubah menjadi bahan sindiran publik.
“Yang kencang jangan cuma motor, recovery bank juga,” tulis salah satu komentar warga yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Nada kritik masyarakat kini mulai terasa lebih tajam karena publik melihat adanya ketimpangan antara besarnya krisis dengan ekspresi ketenangan manajemen.
Banyak nasabah mengaku bukan hanya kecewa karena layanan terganggu, tetapi juga karena tidak melihat adanya tekanan besar dari internal bank seolah situasi masih terkendali normal. Padahal bagi sebagian masyarakat, gangguan layanan selama berbulan-bulan sudah masuk kategori krisis serius.
Yang mulai dipertanyakan publik bukan lagi sekadar kapan mobile banking normal, melainkan apakah jajaran direksi benar-benar memahami tingkat kerusakan kepercayaan yang sedang terjadi.
Sebab dalam dunia perbankan modern, nasabah tidak hanya menilai bank dari besar kecilnya gedung atau kuatnya modal, tetapi dari
