Krisis Siber Belum Tuntas, Gaya Santai Direksi Bank Jambi Mulai Disorot Publik

kemampuan menjaga stabilitas layanan digital.

Dan ketika layanan utama lumpuh terlalu lama, masyarakat mulai membaca situasi dengan cara yang lebih sederhana:

kalau masalah kecil saja selesai lama, bagaimana kalau krisis lebih besar terjadi?

Direktur LBH Makalam Justice Centre, Romiyanto, menilai persepsi publik seperti itu sangat berbahaya bagi reputasi bank apabila tidak segera dijawab dengan langkah konkret dan transparansi.

“Dalam kondisi krisis, publik biasanya melihat gestur pimpinan. Kalau masyarakat menangkap kesan santai di tengah masalah besar, maka kritik sosial akan muncul dengan sendirinya,” ujar Romiyanto.

Menurutnya, dalam situasi seperti sekarang, Direktur Utama bersama direktur yang membidangi teknologi informasi seharusnya tampil lebih dominan menunjukkan kendali terhadap situasi.

“Publik ingin melihat ada komando yang kuat, ada arah, ada ketegasan. Bukan sekadar pernyataan normatif yang terus diulang tanpa progres yang jelas,” katanya.

Ia menambahkan, krisis siber yang berkepanjangan dapat memunculkan persepsi bahwa persoalan yang dihadapi Bank Jambi bukan hanya gangguan sistem, tetapi juga lemahnya antisipasi dan manajemen krisis internal.

“Kalau recovery terlalu lama, publik pasti bertanya-tanya: apakah sistem pengamanannya memang lemah sejak awal, atau memang penanganan krisisnya yang tidak siap?” ujar Romiyanto.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm serius bagi pemegang saham daerah.

“Jangan sampai publik melihat direksi lebih cepat mengatur agenda touring dibanding

error: Content is protected !!
Exit mobile version