Sandera Jalan Khusus, Konflik Kepentingan, dan Nyawa di Aspal

kehadiran stockpile di tengah pemukiman mereka.

​Bom Waktu Ekologis dan Ekonomi

​Di balik hiruk-pikuk kemacetan, ada ancaman sunyi yang tak kalah mematikan: kerusakan ekologi. Noviardi menyebut ini sebagai “problema ketiga” yang menyangkut masa depan ketahanan lingkungan Jambi. Reklamasi pasca-tambang yang sering diabaikan meninggalkan lahan kritis yang tak bisa lagi produktif.

​Ironisnya, carut-marut ini justru berdampak negatif pada produksi batu bara itu sendiri. Noviardi mencatat adanya tren penurunan produksi atau setidaknya hambatan realisasi produksi akibat ketidakpastian jalur transportasi. Pembatasan operasional angkutan batu bara di jalan nasional yang terpaksa dilakukan kepolisian demi ketertiban umum, secara otomatis memangkas volume angkut.

​”Imbasnya itu pengurangan produksi batu bara terus turun, Provinsi Jambi ini. Kenapa? Karena imbas jalan khusus itu belum ada,” jelas Noviardi.

​Artinya, ketiadaan infrastruktur yang memadai merugikan semua pihak: masyarakat sengsara, lingkungan rusak, dan pendapatan daerah pun tidak optimal.

​Menanti Ketegasan, Bukan Sekadar Harapan

​Menutup wawancara, Noviardi menyampaikan harapannya agar ada perbaikan tata kelola yang fundamental. Namun, harapan itu disertai syarat mutlak: ketegasan pemimpin.

​”Kita duga dia terlibat conflict of interest… harapan ke depan, kita adanya perbaikan tata kelola pertambangan di Provinsi Jambi,” ujarnya.

​Ia menekankan pentingnya keterbukaan perizinan dan komunikasi yang jujur kepada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!