Rp 8,4 triliun jika ingin dikembalikan ke kondisi prima. Bandingkan angka ini dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor batu bara untuk Jambi yang hanya berkisar di angka Rp 600 miliar.
Secara matematis, rakyat Jambi sedang “mensubsidi” kerusakan yang dibuat oleh pengusaha batu bara. Dalam konteks inilah kritik Noviardi menemukan relevansinya. Ia mempertanyakan proses verifikasi yang dilakukan Pemprov terhadap para investor jalan khusus.
”Pemprov juga tidak pernah memverifikasi kesiapan investor. Ada enggak dananya? Atau dana Bank ada, bisa-bisa digunakan untuk yang lain. Nah, hal-hal yang kayak gini kan sebenarnya harus dievaluasi,” tegas Noviardi.
Ketidakmampuan memilah investor yang bonafide membuat proyek jalan khusus hanya menjadi janji di atas kertas, sementara jalan umum terus digerus roda-roda truk bermuatan lebih (ODOL).
Nyawa Murah di Jalan Raya
Dampak paling tragis dari karut-marut ini bukanlah rusaknya jalan, melainkan hilangnya nyawa manusia. Data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Jambi mencatat setidaknya 39 orang meninggal dunia akibat kecelakaan yang melibatkan truk batu bara sepanjang tahun 2022 saja. Angka ini belum termasuk insiden-insiden yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
Masyarakat Jambi tentu belum lupa dengan kejadian “macet horor” di Tembesi pada awal 2023, di mana kemacetan total terjadi selama lebih dari 22
