Sandera Jalan Khusus, Konflik Kepentingan, dan Nyawa di Aspal

sia-sia.

​”Meskipun pemerintah sudah menganggarkan 35 miliar [untuk] jalan yang ditembus di Batanghari—tembus dari daerah Tembesi yang katanya bakal tembus ke Nes—ternyata dana habis dari APBD, jalan kan tidak bisa digunakan,” ungkap Noviardi dengan nada kecewa.

​Kegagalan ini bukan sekadar masalah kekurangan dana, melainkan cermin dari pendekatan kebijakan yang keliru. Noviardi menilai langkah Gubernur Jambi terlalu sarat dengan nuansa politis ketimbang teknokratis.

​”Yang salah ini pendekatan Gubernur tuh terlalu politik pencitraan. Sementara aspek teknis pengerjaan jalan khusus, dia tidak pernah memfasilitasi,” tambahnya.

​Fakta di lapangan memang memilukan. Jalan yang dibangun tanpa studi kelayakan teknis yang matang tersebut hancur sebelum berfungsi optimal. Noviardi menekankan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) lalai dalam hal-hal mendasar seperti perizinan pelepasan lahan masyarakat maupun perusahaan, serta gagal membimbing investor untuk melakukan sosialisasi. Akibatnya, progres pembangunan jalan khusus berjalan lambat, bahkan stagnan.

​Defisit Nalar: Kerusakan 8,4 Triliun vs Pendapatan 600 Miliar

​Jika dilihat dari kacamata ekonomi publik, tata kelola batu bara di Jambi saat ini adalah sebuah ironi besar. Kerusakan yang ditimbulkan jauh melampaui pendapatan yang diterima daerah.

​Data menunjukkan ketimpangan yang mengerikan. Estimasi biaya perbaikan jalan nasional di Jambi yang rusak akibat angkutan batu bara mencapai angka fantastis, yakni sekitar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!