Benanusa.com, JAMBI – Jalanan Jambi tak ubahnya seperti “jalur neraka” bagi warga lokal. Di balik klaim pertumbuhan ekonomi dari emas hitam, tersimpan realita pahit yang harus ditelan masyarakat setiap hari: kemacetan yang mengular hingga puluhan jam, debu pekat yang menyesakkan dada, hingga nyawa yang melayang sia-sia di aspal. Batu bara, yang seharusnya menjadi berkah sumber daya alam, kini justru menjadi sandera bagi kenyamanan dan keselamatan publik di Jambi.
Pemerintah Provinsi Jambi seolah gagap menghadapi gurita permasalahan ini. Janji manis jalan khusus yang didengungkan sejak lama tak kunjung mewujud, menyisakan konflik horizontal dan kerusakan infrastruktur yang masif. Dr. Noviardi, seorang pengamat kebijakan publik di Jambi, membedah secara kritis bagaimana ketidakmampuan pemerintah dan kuatnya dugaan konflik kepentingan telah membuat Jambi tersandera oleh industri ini.
Ilusi Jalan Khusus dan Proyek “Pencitraan” 35 Miliar
Akar utama dari segala kekacauan ini adalah ketiadaan jalan khusus angkutan batu bara. Ribuan truk bertonase besar dipaksa berbagi ruang dengan kendaraan pribadi, ambulans, dan truk sembako di jalan nasional yang kapasitasnya terbatas.
Dalam wawancaranya, Noviardi menyoroti tajam kegagalan proyek jalan alternatif yang sempat digadang-gadang pemerintah. Ia menunjuk pada proyek jalan tembus Batanghari (Tembesi ke Nes) yang menelan anggaran APBD sebesar Rp35 miliar namun berakhir

