sehingga hak kliennya dapat dipertahankan.
Ia juga mendampingi tanpa memungut biaya tiga anak kandung yang menjadi korban kekerasan seksual oleh ayah kandung mereka sendiri. Dalam perkara lain, ia memberikan bantuan hukum kepada seorang calon anggota Polwan yang menjadi korban dugaan rudapaksa oleh dua oknum anggota kepolisian bersama dua orang warga sipil. Selain itu, ia aktif menangani berbagai sengketa pertanahan dan perkara-perkara lain yang menyangkut kepentingan masyarakat kecil.
Baginya, menjadi advokat bukan sekadar profesi. Menjadi advokat adalah panggilan untuk menghadirkan keadilan bagi mereka yang tidak mampu memperjuangkannya sendiri.
Selain aktif di dunia profesi, Bertua juga dipercaya sebagai Ketua Perkumpulan Muda-Mudi Silahisabungan Jambi serta pernah menjadi Komando Aksi Mahasiswa Peduli Rakyat Jambi. Kepemimpinan baginya bukan tentang kedudukan, tetapi tentang bagaimana seseorang dapat membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Di balik seluruh perjalanan tersebut, ada satu hal yang selalu ia syukuri.
Tuhan tidak hanya mengangkat kehidupannya, tetapi juga menganugerahkan seorang putra yang diberi nama Abdiel, yang berarti “Hamba Tuhan”, sebagai pengingat bahwa setiap keberhasilan harus tetap disertai kerendahan hati dan pengabdian kepada Tuhan
Kini, ketika mengenakan toga advokat dan berdiri di ruang-ruang sidang memperjuangkan keadilan, Bertua sering mengingat kembali perjalanan hidupnya.
Ia masih mengingat bagaimana dahulu ibunya memohon kepada sekolah agar dirinya
