Dari Office Boy Menjadi Advokat: Sebuah Perjalanan Iman, Ketekunan, dan Pengabdian

keinginan. Namun ia juga belajar bahwa setiap kesulitan selalu memiliki jalan keluar bagi mereka yang tidak menyerah.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 036 Mandau Duri, kemudian melanjutkan ke SMP Advent Duri dan SMA Negeri 4 Mandau. Masa sekolah bukanlah masa yang mudah untuk dikenang. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat kedua orang tuanya harus berjuang keras agar dirinya tetap dapat bersekolah.

Saat duduk di bangku SMP, ibunya bahkan beberapa kali harus memohon kepada pihak Yayasan Perguruan Advent Duri agar ia tetap diizinkan mengikuti ujian meskipun uang sekolah masih menunggak. Bukan karena tidak ingin membayar, melainkan karena kondisi ekonomi keluarga benar-benar tidak memungkinkan. Berkat kemurahan hati pihak sekolah, kesempatan itu tetap diberikan.

Keadaan tersebut terus berlanjut hingga ia menyelesaikan pendidikan SMA. Di saat teman-temannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Bertua harus mengubur impiannya. Keinginan menjadi sarjana hukum hanya menjadi angan yang terasa begitu jauh karena keluarganya bahkan hanya memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Keadaan memaksanya memasuki dunia kerja lebih awal. Ia pernah menjadi buruh bangunan, bekerja di usaha doorsmeer di Kisaran, hingga akhirnya menjadi Office Boy dan kolektor di PT Indomobil Finance Duri.

Pada masa itulah sebuah kalimat menghantam harga dirinya.

“Kau itu cuma lulusan SMA. Wajarlah kau jadi Office Boy.”

Ucapan itu begitu membekas dalam ingatannya. Bukan karena membuatnya marah, melainkan karena menjadi pengingat bahwa kehidupan hanya akan berubah apabila ia berani mengambil langkah yang berbeda.

Tahun 2014 menjadi titik balik yang mengubah seluruh arah hidupnya.

Dengan bekal iman, doa, dan keberanian, ia meninggalkan Kota Duri menuju Jambi. Tidak membawa kekayaan. Tidak memiliki kepastian. Yang ia bawa hanyalah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang terus berharap kepada-Nya.

Sebelum keberangkatannya, almarhum ayahnya memberikan pesan yang hingga hari ini tidak pernah ia lupakan.

“Dang na mora hita amang, alai Debata ta na mora do. Jugulhon ma martangiang jala pengido sian Ibana, jala unang hea ho lupa martangiang jala unang maninggalhon Ibana.”

“Kita memang tidak kaya, Nak. Tetapi Tuhan kita kaya. Teruslah meminta kepada-Nya, jangan pernah berhenti berdoa, dan jangan pernah meninggalkan Tuhan.”

Kalimat itulah yang menjadi bekal terbesarnya.

Sesampainya di Jambi, Bertua mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Batanghari. Sejak awal ia telah menetapkan sebuah target yang menurut banyak orang hampir mustahil.

Ia ingin menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun.

Perjalanannya tentu jauh dari kata mudah.

Untuk tetap dapat kuliah, ia harus bekerja sambil belajar. Ia pernah menjadi petugas keamanan di sebuah kompleks perumahan, membantu

error: Content is protected !!
Exit mobile version