Sandera Jalan Khusus, Konflik Kepentingan, dan Nyawa di Aspal

mata” dengan pengusaha atau terlibat dalam bisnis transportasi itu sendiri, penegakan aturan hanya akan menjadi lip service belaka.

​Dugaan keterlibatan oknum dalam bisnis ini juga diperkuat dengan sulitnya menertibkan tambang-tambang ilegal yang beroperasi tanpa izin, meninggalkan lubang galian yang menganga tanpa reklamasi.

​Kasus PT SAS: Ancaman di Depan Halaman Rumah

​Selain masalah transportasi, ancaman batu bara kini semakin mendekat ke pemukiman warga. Kasus penolakan warga terhadap rencana pembangunan stockpile (tempat penumpukan) dan terminal batu bara milik PT Sinar Anugerah Sukses (SAS) di kawasan Aur Kenali/Aur Duri menjadi bukti nyata.

​Noviardi menyoroti keras rencana ini karena dinilai melanggar tata ruang. Lokasi yang seharusnya untuk pemukiman dan pertanian dipaksa menjadi kawasan industri.

​”Masalah PT SAS yang mau buka stockpile dan terminal untuk kepentingan sendiri tuh, silakan saja. Tapi jangan di areal pemukiman,” tegasnya. Ia memperingatkan dampak jangka panjang berupa debu, pencemaran air bersih, dan kebisingan bagi warga Kota Jambi.

​Noviardi mengatakan bahwa permasalahan ini menimbulkan kerawanan sosial yang serius. Jika dipaksakan, letupan konflik antara warga dan perusahaan tak akan terhindarkan. “Ya kuncinya kan harus relokasi. Dipindah lokasi,” pungkasnya. Penolakan ini sejalan dengan sikap Pj Wali Kota Jambi dan warga setempat yang hingga kini masih berjuang menolak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!