Setmas-LPAS: Reformulasi Budidaya adalah Kunci Kemandirian Beras Muaro Jambi

Benanusa.com, Muaro Jambi – Dalam FGD penyusunan rencana pengelolaan sumber daya alam Kabupaten Muaro Jambi, sesi pemaparan yang disampaikan oleh Wisma Wardana dari Setmas-LPAS menjadi salah satu perhatian utama seluruh peserta. Dengan mengangkat pendekatan “ancaman sebagai peluang”, Wisma mengajak peserta forum melihat kondisi pertanian dan pangan daerah secara realistis dan berbasis data.

 

Berdasarkan data BPS yang ia uraikan, Muaro Jambi mengalami penyusutan lahan sawah sangat signifikan dalam 10 tahun terakhir, dari 24.898 hektare pada 2014 menjadi hanya 5.773 hektare pada 2024, atau hilang lebih dari 19.000 hektare. Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan produktivitas pertanian, tetapi juga menyangkut struktur ekonomi lokal, stabilitas sosial desa, dan arah pembangunan jangka panjang.

 

Wisma juga memaparkan kondisi defisit beras Muaro Jambi yang mencapai sekitar 33–35 ribu ton per tahun, akibat produksi lokal yang hanya mampu memenuhi sekitar seperempat kebutuhan konsumsi beras masyarakat. Ketergantungan pada suplai dari luar daerah menurutnya menciptakan kebocoran ekonomi dan membuat petani lokal tidak berada pada posisi strategis dalam ekosistem pangan.

 

Dalam pemaparan tersebut, Wisma menawarkan arah baru melalui reformulasi budidaya padi sawah yang berorientasi pada keberlanjutan dan efisiensi. “Penerapan pertanian presisi, penggunaan indikator tanah berbasis parameter ilmiah, pemanfaatan teknologi mikroorganisme dan pupuk organik, serta perangkat mekanisasi modern yang tepat guna menjadi satu rangkaian untuk mencapai keberhasilan dan keberlanjutan”, ujarnya.

 

Pendekatan ini bukan sekadar modernisasi, tetapi restrukturisasi cara kerja pertanian yang selama ini cenderung linier dan berbasis kebiasaan lama.

 

Selain aspek teknis, Wisma juga menggarisbawahi pentingnya pembenahan struktur kelembagaan pertanian, peningkatan kapasitas petani, pelibatan generasi muda dalam usaha tani modern, serta pembentukan ekosistem kemitraan antara pemerintah, masyarakat tani, lembaga desa, dan pihak swasta.

 

Melalui uraian argumentatifnya, Wisma mengajak agar Kabupaten Muaro Jambi tidak sekadar mencoba kembali bertani, tetapi membangun sistem pangan berbasis kemandirian dan keberlanjutan. Forum tersebut diakhiri dengan optimisme bahwa penataan ulang sektor pertanian dapat menjadi motor ekonomi yang menghidupkan kembali desa, meningkatkan daya tawar petani, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!