Sarolangun – Tingkah PDAM Tirta Sako Batuah Sarolangun mulai bikin kecewa pelanggannya. Salah satu pelanggan yakni Riqky Halabanta Sinuraya yang tinggal di Kec Pasar Sarolangun mengungkap masalah kenaikan tagihan yang melambung tinggi dan berujung pemutusan, baru-baru ini.
Parahnya hal tersebut disinyalir dilakukan oleh PDAM Tirta Sarolangun tanpa ada memberi penjelasan lebih lanjut terhadap pelanggannya tersebut. Riqky yang mendiami rumah dari saudaranya yakni Neny Efriani tersebut pun mengungkap kekesalannya.
“Tagihan air naik. Sampai Rp 300an ribu, sampelah kemaren-kemaren tu diputus sama PDAM. Air kami tiba-tiba diputus, pipa kami di rusak dan ditutup pakai batu agar tidak ketahuan. Padahal mereka sudah memutus aliran air dari pusatnya.
Masalah nya itu pipa saya beli sendiri bukan pemberian dari pihak PDAM sarolangun,” ujar dia.
Padahal berdasarkan pengakuan Riqky tidak ada kenaikan signifikan dalam penggunaan air oleh keluarganya di rumah.
Penggunaan air normal untuk kebutuhan sehari-hari, namun entah mengapa tarif terus melambung tinggi.
Kenaikan tarif tersebut berlangsung terus-menerus dari tahun 2022 hingga 2024 hingga akhirnya dia tak sanggup lagi membayar tagihan dan berakhir dengan pemutusan sambungan air dari PDAM Sarolangun.
Dilihat dari riwayat pemakaian air oleh keluarga Neni tersebut sebagaimana dalam laman website PDAM Sarolangun, jumlah tagihan Neni pada rentang November 2021 dengan pemakaian 33 M3 senilai Rp 146.400.
Kemudian naik pada periode Desember 2021 sebesar 2 kali lipat, yakni PDAM mencatat pemakaian sebanyak 80 M3 dengan nilai tagihan sebesar Rp 348.500. Hal tersebut terus berangsur hingga catatan pemakaian air PDAM oleh Neni meledak pada 2024.
Berdasarkan foto meteran pelanggan, PDAM Sarolangun mencatat pemakaian air oleh keluarga Neni pada rentang Desember 2023 sebesar 2946 M3, Januari 2024 sebesar 2975 M3, Fenruari 3010 M3, Maret 3047 M3, April 3083 M3, Mei 3115 M3, Juni 3184 M3.
Hal serupa juga dialami oleh pelanggan yang lain, yakni Bernat Inak (Rico Wijaya). Dari pemakaian yang hanya 0 M kubik pada April 2024, tagihannya mencapai Rp 49.500. Periode Mei pemakaian dicatat naik sebesar 10 M Kubik, tagihan Rp 112.800.
Namun entah mengapa sangat berbeda dengan foto meteran yang tercantum dalam aplikasi, pada foto meteran tercatat pemakaian air pada April 2022 sebesar 442 M Kubik, Periode Mei 452 M Kubik, dan Juni 472 M Kubik.
“Enggak tau kami, entah foto meteran siapo yang dipake tu, yang jelas kami dak ado makai air sebanyak tu,” ujarnya.
Atas permasalahan dengan pelanggan tersebut, Direktur PDAM Sarolangun, Sargawi mengklaim bahwa sudah memfasilitasi untuk penyelesaian permasalahan pelanggan atas nama Neni Afriyani. Namun yang bersangkutan tidak mengikuti arahan pihaknya.
“Ya. Terkait pelanggan an Neni Afriyani sdh di fasilitasi tapi yg bersangkutan tdk mau mengikuti arahan dari pihak pdam,” kata Sargawi, Kamis kemarin 3 Oktober 2024.
Sargawi juga menyangkal soal kenaikan tarif tagihan pelanggan, kata Sargawi, dari awal pasang pemakaian airnya memang banyak.
“PDAM sdh menghubungi sdr neni agar menyelesaikan tunggakan rekeningnya tapi ybs blm ada itikad baik membayar tunggakan. Pihak pdam sdh memberi waktu 2 bln agar sdr neni menyelesaikan kewajibannya tapi ybs blm dtg ke kantor shg dilakukan pemutusan krn tunggakan airnya sdh 9 bln dgn jumlah Rp.2.239.400,” ujarnya.
Namun keluarga Neni yakni Riqky, tidak terima dengan pernyataan Sargawi. Dia membantah semuanya. Menurut Riqky malahan pihaknya sudah berupaya untuk menyelesaikan permasalahan tagihan air tersebut langsung kepada Direktur PDAM Sarolangun.
“Kami sudah berupaya menemui Direktur, ada itu 2 kali tapi selalu diarahkan ke Manager. Dan tidak ada solusi, ini 2 hari lalu tiba-tiba diputus sudah air kami,” katanya. (*)
